Lu tu bukan fufufafa

Pelabuhan Terakhir

Dua tahun.

Sudah dua tahun sejak semuanya berakhir, tapi malam tetap datang dengan wajah yang sama. Berat, lengket, penuh dengan hal-hal yang tidak bisa diucapkan. Kipas angin berputar pelan di sudut kamar, berderit seperti lagu lama yang tidak pernah selesai. Langit putih menguning di atas kepala. Dan aku masih di sini, di tepi kasur yang sama, menatap ke atas seperti sedang menunggu jawaban yang tidak pernah datang.

Orang bilang waktu adalah obat. Barangkali mereka benar, tapi bukan obat yang menyembuhkan. Lebih seperti kain tipis yang menutupi luka, cukup untuk berfungsi tidak cukup untuk lupa. Aku sudah belajar tersenyum saat ditanya kabar. Sudah belajar menjawab "baik" dengan nada yang meyakinkan. Tapi di balik semua itu, lukanya masih ada. Diam. Menunggu momen lengah untuk kembali terkelupas.

~~

Kenangan tentang dia selalu dimulai dari hal-hal kecil.

Aroma tinta merah yang menyengat di udara kelas siang itu. Angin sore yang masuk lewat jendela, menggerakkan tirai lusuh. Suara kursi digeser, tawa yang meledak lalu padam, lalu meledak lagi. Di antara semua itu, aku pertama kali benar-benar melihatnya, bukan sebagai teman sekelas biasa, tapi sebagai seseorang yang membuat ruangan terasa berbeda hanya dengan kehadirannya.

Perasaan itu tumbuh diam-diam, seperti mawar yang tidak minta izin untuk mekar. Setiap hari ada saja yang baru, matanya saat aku menjelaskan pelajaran yang tidak ia mengerti, caranya menangkap gambar tanpa peringatan lalu tertawa melihat hasilnya, momen-momen duduk berdampingan dalam diam yang entah kenapa terasa lebih penuh dari percakapan panjang manapun.

Aku merawat perasaan itu seperti merawat sesuatu yang berharga. Menanyakan kabarnya setiap malam. Membelikan makanan favoritnya. Menemaninya menunggu hujan reda di depan gerbang sekolah. Dan perlahan, tanpa kusadari, hatiku yang tadinya tenang, yang senang dengan buku-buku lusuh dan kesunyian, menjadi ramai oleh kehangatan yang belum pernah kukenal sebelumnya.

Tapi aku lupa bahwa mawar punya duri. Atau mungkin aku tahu, hanya memilih untuk tidak peduli, karena bagaimana mungkin aku memalingkan wajah dari sesuatu yang begitu indah.

~~

Empat bulan setelah kami melempar topi abu-abu ke langit, semuanya runtuh.

Bukan karena pertengkaran besar. Tidak ada drama yang layak diceritakan. Hanya ego, egoku yang terlalu keras untuk mengalah, terlalu berat untuk meminta maaf duluan, terlalu bodoh untuk memahami bahwa dalam cinta tidak ada yang namanya menang atau kalah.

Aku yang meninggalkannya. Dengan keyakinan naif bahwa dia akan mengejar, akan memohon, akan berkata bahwa dia tidak bisa pergi. Tapi dia tidak melakukan itu. Dia hanya diam, menerima keputusanku dengan tenang yang menyakitkan, lalu pergi. Langkahnya semakin jauh, semakin kecil, sampai akhirnya hilang.

Dan aku berdiri di sana, sendirian, dengan kemenangan yang terasa hambar seperti abu di mulut.

~~

Enam atau sembilan bulan yang lalu, aku tidak ingat pasti, karena otakku sibuk menyangkalnya, notifikasi di layar kecil itu membawa foto yang tidak kuharapkan. Dia. Dan seseorang yang baru.

Tangan yang dulu hangat di telapakku kini menggenggam tangan yang lain. Senyum yang dulu tersimpan dalam ingatanku kini ada di galeri ponsel orang lain. Aku menatap layar itu lama sekali, jemariku membeku di atas permukaan kaca yang dingin, sampai mataku perih tapi tidak mengeluarkan air mata. Bukan karena tidak sakit. Tapi karena ada rasa yang jauh lebih dalam dari sekadar sedih, rasa berat yang tidak bisa diurai, yang hanya bisa ditanggung dalam diam.

Beberapa waktu setelahnya, dalam satu momen pasrah yang bodoh, aku menghubungi keluarganya. Orang-orang yang dulu memperlakukanku seperti milik mereka sendiri. Tapi rupanya aku salah memilih kata, salah memilih waktu. Balasan mereka datang cepat dan dingin, membuatku sadar bahwa jembatan yang kukira hanya retak ternyata sudah lama runtuh ke dasar sungai. Tidak ada pilar yang tersisa. Tidak ada yang bisa diinjak untuk menyeberang kembali.

Malam itu aku kehilangan bukan hanya dia, tapi juga rumah kedua yang pernah kupunya.

~~

Aku berdiri di depan kamar, menatap kota yang masih ramai di bawah sana, lampu-lampu berkelap-kelip, kehidupan yang terus berjalan tanpa peduli ada yang sedang hancur di sudut tertentu.

Aku membiarkan kapalnya berlayar ke pelabuhan lain.

Tapi jika aku jujur, sambil menatap langit gelap yang mulai mendung, pelepasan ini tidak sepenuhnya ikhlas. Di sudut gelap yang tidak berani kuakui pada siapa pun, ada harapan yang memalukan: semoga ada batu karang kecil di pelabuhan barunya. Bukan yang menghancurkan, hanya yang cukup untuk membuatnya teringat bahwa dulu, di pelabuhanku, dia tidak pernah menghadapi hal semacam itu.

Aku tahu ini egois. Tapi inilah aku yang sebenarnya, bukan malaikat yang melepas dengan senyum tulus, hanya manusia biasa yang masih menyimpan harapan bodoh meski tahu harapan itu sudah lama karam.

~~

Malam ini kamarku sudah berganti isinya, tapi tetap terasa kosong dengan cara yang sama. Ponselku gelap dan sunyi di samping kasur. Foto-foto kami sudah hanyut dibawa ombak. Tapi durinya masih di sini, menancap dalam, mengingatkanku setiap hari bahwa pernah ada mawar yang tumbuh di kolam teratai ini.

Aku tidak membencinya. Sungguh tidak. Aku hanya terlalu lelah untuk terus mencari jawaban atas sesuatu yang mungkin memang tidak punya jawaban.

Jadi, selamat jalan. Semoga ombak di pelabuhan barumu selalu tenang. Semoga tangan yang menggenggammu sekarang tidak pernah melepas seperti yang kulakukan dulu.

Dan jika suatu hari kau tersesat, jika peta yang kau pegang tidak lagi akurat, aku masih di sini. Di kolam teratai yang sama. Dengan air yang barangkali sudah tidak sejernih dulu, dengan bunga-bunga yang mulai layu di pinggiran, dengan lumut yang tumbuh pelan di batu-batu. Masih di sini, dengan duri-duri kenangan yang sudah jadi bagian dari diriku.

Maafkan aku. Barangkali aku tidak akan pernah benar-benar ikhlas melepasmu.

Tapi setidaknya, aku sudah belajar cara membiarkanmu pergi, sambil diam-diam, dengan sangat diam-diam, berharap kau akan kembali.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudah hilang, noooooo

Teknologi Ramah Lingkungan